Minggu, 26 September 2010

Lingkungan Hidup Menurut Pandangan Islam


Sebagai mahluk yang paling mulia, maka Allah Swt mengangkat manusia sebagai penguasa di bumi. Sebagaimana Firman Allah Swt dalam Al- Quran surat Al An,am, Ayat 165, yang artinya “ Dialah yang menjadikan kamu penguasa - penguasa  di bumi.”
Untuk mengatur bumi dan segala isinya itulah maka manusia dianugerahi akal yang sempurna. Selain itu juga Allah Swt memberikan petunjuk yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul, itulah yang disebut dengan “Agama”. Dengan akalnya manusia dapat mencapai kemajuan dalam segala bidang. Sedangkan dengan agama manusia akan sejahtera lahir dan batin baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai penguasa di bumi, manusia berkewajiban untuk mengolah alam sekitar untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya. Oleh karena itu, segala yang terdapat di  bumi, di lautan dan begitu pula yang terdapat di dalam perut bumi harus diolah, digarap dan digali supaya hasilnya dapat dinikmati untuk kehidupan manusia. Sebagaimana Firman Allah Swt dalam Al-Quran Surat Al-Huud, Ayat 61, yang artinya “ Dia telah menciptakan kamu dari bumi (Tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. “ Maksudnya  Manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia. Semua itu hendaknya dijadikan bekal oleh manusia untuk mengabdi kepada Allah Swt yang telah menciptakannya.

A.         Perilaku Manusia Terhadap Alam

Seorang muslim memandang alam sebagai milik Allah Swt yang wajib disyukuri dengan cara menggunakan dan mengelola alam dengan sebaik-baiknya sehingga dapat memberikan manfaat bagi manusia itu sendiri. Pemanfaatan alam yang diajarkan adalah pemanfaatan yang didasari oleh sikap tanggungjawab. Alam yang memberikan keuntungan tidak hanya diambil kandungannya saja tetapi juga supaya alam tetap utuh dan lestari dengan cara memberikan kesempatan kepada alam untuk melakukan rehabilitasi atau membantu mempercepat pemulihannya kembali.
Manusia dituntut untuk berakhlak kepada alam, yang berarti menyikapi alam dengan cara memelihara kelestariannya. Oleh karena itu, Allah Swt memberikan isyarat supaya manusia dapat mengendalikan dirinya dalam mengeksploitasi alam sebab alam yang rusak dapat merugikan bahkan menghancurkan manusia itu sendiri.

B.         Mengelola Dan Memelihara Alam 

Manusia diciptakan oleh Allah Swt dan digelarkan di muka bumi untuk mengelola alam dalam rangka  memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai mahluk Allah Swt yang sempurna. Kesempurnaan manusia dibandingkan dengan mahluk lainnya karena potensi yang diberikan oleh Allah Swt di dalam Al-Quran Surat Lukman, Ayat 20, yang artinya “ Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentinganmu) apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan menyempurnakan untukmu hikmahnya lahir dan batin.”
Di samping itu juga terdapat dalam firman-Nya , yakni Al-Quran Surat Hud, Ayat 11, yang  artinya “ Menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian sebagai Pemakmurnya.”
Memakmurkan bumi adalah mengelola sumber daya yang disebabkan oleh Allah Swt di mana semuanya ditujukan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia. Kebahagiaan itu harus dicari karena ia merupakan tujuan yang hendak dicapai. Sebagaimana Firman Allah Swt:
1.      Al-Quran Surat Al-Mulk, Ayat 15, yang artinya “ Dialah ( Allah ) yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kalian akan kembali.”
2.      Al-Quran Surat Al-Araf, Ayat 10, yang artinya “ Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi itu (sumber) penghidupan.”
Mencari kebahagiaan hidup merupakan kewajiban setiap orang. Hanya saja kebahagiaan hakikinya hanya dapat diperoleh dengan petunjuk dan bimbingan Allah sebab kebahagiaan hakiki mencakup keseluruhan hidup, yaitu hidup di dunia dan hidup di akhirat. Sebagaimana Firman Allah Swt di dalam AlQuran Surat Al-Qashash, Ayat 77, yang artinya “ Tuntutlah (kebahagiaan) yang disebabkan Allah di akherat kelak dan janganlah kalian lupakan kebahagiaan kalian di dunia.”
Kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akherat dalam konsep Islam tidak dapat dipisahkan. Orang akan bahagia di dunia apabila ia mempersiapkan bekal kebahagiaan akherat dengan baik, demikian juga sebaliknya, persiapan untuk mencapai kebahagiaan akherat memerlukan upaya yang sungguh-sungguh, terpadu dan simultan. Tidak terlapas dari tujuan itu, maka Allah Swt menghendaki supaya manusia dapat mengelola isi alam untuk memenuhi hajat hidup manusia itu sendiri. Untuk dapat mengelola alam ini dengan baik diperlukan adanya kemauan dan kemampuan pada diri setiap orang. Kemauan lahir dari adanya kesadaran akan hak dan tanggungjawab sebagai manusia. Sedangkan kemauan lahir dari kesadaran akan kepemilikan potensi dan semangat serta kepercayaan diri untuk memeliki kemampuan itu.
Alam raya dengan segala potensi yang terkandung di dalamnya diberikan kepada manusia untuk diolah dan dimanfaatkan. Mengelola dan memanfaatkannya memerlukan usaha dan kerja keras karena Allah Swt tidak memberikan barang jadi melainkan bahan mentah yang mesti diolah dengan menggunakan potensi yang telah diberikan oleh Allah Swt kepada manusia, yaitu “Akal”. Sebagaimana Firman Allah Swt di dalam Al-Quran Surat Ibrahim, Ayat 32-33, yang artinya “ Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit. Kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu ; dan Dia telah menundukan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) ; dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.”
Segala sesuatu di alam ciptaan Allah Swt ini diperuntukkan bagi manusia. Sekarang tinggal manusia itu sendiri, apakah mau mengolahnya atau malah membiarkannya atau menghancurkannya. Islam mendorong umatnya untuk mengolah, memelihara dan memanfaatkan alam sehingga dapat bermanfaat bagi manusia dan alam itu sendiri. Sebagaimana firman Allah Swt di dalam Al-Quran Surat Abasa, Ayat 26-32, yang artinya “Kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat dan buah-buahan serta rumput-rumput untuk kesenangan dan untuk binatang ternakmu.”
Alam yang penuh dengan sumber daya alam ini mengharuskan manusia untuk bekerja keras dalam hidup, telah digambarkan oleh Allah Swt dalam menandai kekuasaannya yang Maha Besar, yaitu gambaran simbolik dalam fenomena yang tampak pada mahluk-Nya. Apabila dipikirkan dan dihayati dengan sungguh-sungguh, misalnya bagaimana bayi yang baru saja dilahirkan harus berjuang keras menyesuaikan diri (Adaptasi) dengan lingkungan alam yang baru dimasukinya. Di sini (dunia) apabila ia lapar, ia harus berjuang untuk memenuhi keinginannya dengan cara menangis supaya sang Ibu memberikan air susunya. Menangis bagi bayi merupakan usaha dan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Atau dalam hal lain, Allah Swt menggambarkan melalui ciptaan-Nya yang lain, seperti biji kacang yang ditanam di dalam tanah. Dengan demikian, ia harus berjuang menembus tanah sehingga udara dapat dihirupnya dan ia pun dapat tumbuh.
Gambaran di atas merupakan pelajaran dari Allah Swt untuk manusia bahwa sebenarnya hidup ini adalah perjuangan yang tidak akan pernah berhenti. Berhenti berjuang atau berusaha berarti hilanglah makna hidup dan tamat pula riwayat dari kehidupannya.

C.         Menjaga Dan Melestarikan Alam

Manusia adalah mahluk yang sempurna dengan kemampuan akal, Qalbu serta nilai-nilai yang diberikan oleh Allah Swt yang dapat membentuk akhlak yang baik yang diaktualisasikan dalam bentuk hubungan yang harmonis dengan alam lingkungannya.
Manusia ditengah-tengah alam memiliki peran sebagai subjek yang akan berpengaruh terhadap lingkungannya dan hubungan manusia dengan alam lingkungannya itu merupakan interaksi yang saling berpengaruh. Sebagai mahluk Allah Swt yang diberi akal dan kepribadian, manusia dapat menentukan sikap terhadap ekosistem di tempat di mana ia hidup.
Al-Quran banyak memberikan dorongan untuk menjaga dan memelihara alam dan lingkungan hidup, karena misi Islam pada dasarnya mencakup sikap terhadap alam.  Sebagaimana Firman Allah Swt di dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya, Ayat 107, yang artinya “Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
Memberi rahmat pada alam adalah bagian yang tak terpisahkan dari bentuk pelaksanaan ajaran  Islam secara keseluruhan. Alam adalah anugerah yang diberikan oleh Allah Swt kepada manusia. Sesuai dengan kedudukan manusia sebagai khalifah Allah Swt, maka ia dituntut untuk dapat menjaga dan memelihara alam disamping menggunakan dan memanfaatkannya.
Banyak kerusakan dan malapetaka yang ditimbulkan oleh perilaku manusia yang tidak memperhatikan hubungan dirinya dengan alam lingkungannya. Kerusakan ekosistem lautan maupun daratan disebabkan karena manusia tidak menyadari keharusan hubungan yang mestinya terjalin dengan seimbang antara dirinya dengan alam lingkungannya. Untuk itu Allah Swt mengisyaratkan dalam firman-Nya di dalam Al-Quran Surat Ar Rum,  Ayat 41, yang artinya “ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Disamping itu juga terdapat di dalam Firman Allah Swt yang lain, yakni dalam Al-Quran Surat Al-Qashash, Ayat 77, yang artinya “… dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Kerusakan di daratan adalah ekosistem daratan (terrestrial ecosystem) yang digunakan tanpa memperhitungkan akibat-akibat yang dapat ditimbulkannya, misalnya pembabatan hutan mengakibatkan malapetaka longsor, banjir dan serangan hewan penghuni hutan yang habitatnya terganggu oleh pemukiman penduduk di sekitarnya. Laut yang tercemar oleh zat-zat kimia, perusakan tumbu karang, eksploitasi kekayaan bawah air dan yang tidak memperhitungkan akibat bagi lingkungan manusia merupakan awal dari malapetaka manusia di muka bumi. Kerusakan itu sebagai akibat dari ulah mereka sendiri terutama karena ketamakan dan kerakusan meraka dalam menganbil keuntungan material tanpa memperhitungkan akibat dan masa depan alam dan generasi berikutnya.   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar